Rabu, 15 Maret 2017
Investasi pertama, reksadana
1. Bagaimana cara beli reksadana, dimana? Minimal pembelian berapa?
2. Bagaimana cara memilih reksadana?
Pertama, saya mau menjawab dua pertanyaan di atas sesuai dengan pengetahuan pribadi. Kalo kurang tepat, ya harap dimaklumi (tapi Inshaallah bener kok, haha)..
1. Reksadana adalah salah satu instrumen investasi yang diterbitkan oleh perusahaan asset management atau bisa juga kita sebut manager investasi. Jumlahnya sangat banyak, ada sekitar 100 perusahaan kalo ga salah. Beberapa diantaranya, PT Danareksa Asset Management, PT Panin Asset Management, PT Samuel Asset Management, dll. Setiap perusahaan menawarkan minimal pembelian yang berbeda- beda, ada yang Rp 100.000, Rp 250.000, ada juga yang minimal pembeliannya hingga jutaan.
2. Saya nggak punya tips khusus sih buat milih reksadana karena saking banyaknya. Jumlah manager investasi sudah ratusan. Setiap satu perusahaan mengeluarkan beberapa produk reksadana, jadi pilihannya banyak buangeet. Paling tipsnya banyak baca sama banyak nanya. Berita di internet juga banyak, googling aja reksadana dengan kinerja terbaik. Lalu sesuaikan juga dengan kemampuan. Misalnya, cuma bisa beli Rp 100.000 per bulan, ya cari manager investasi yang produk reksadananya bisa dibeli dengan minimal Rp 100.000. Kalau saya minta rekomendasi teman juga yang sudah duluan beli. Jangan tanya produk reksadana saya apa, rahasia! hahaha. Soalnya, saya nggak lagi promosi produk..
Jadi, saya mulai beli reksadana sekitar pertengahan 2015, sebenarnya sudah agak terlambat. Sebab, saya mulai berpenghasilan (baca : mulai kerja) tahun 2013 dan mulai mengenal instrumen investasi sekitar pertengahan 2014. Jadi cari infonya sekitar 1 tahun sebelum benar2 membeli produk investasi.
Saya memilih reksadana karena paling murah dan terjangkau. Coba kalau mau properti, mesti siapin puluhan juta buat DP. Cicilan per bulannya juga jutaan, saya yang cuma pegawai swasta dengan gaji yaah segini aja sih belum mampu. Investasi emas nggak suka, minimal beli per gramnya juga sekarang sekitar Rp 500.000. Return atau imbal hasilnya juga dikit.
Awalnya memang susah pilih2 produknya. Sudah banyak membaca, tapi tetep bingung. Akhirnya saya minta rekomendasi teman2 kantor yang sudah duluan beli. Itupun saya masih harus memilah-milah dari semua rekomendasi yang lumayan banyak.
Buat teman2 yang mau coba beli reksadana, saya akan coba ceritakan langkah2 saya.
1. Pastikan kita sudah punya dana likuid (dana yang mudah dicarikan, baca : tabungan) yang cukup. Karena kata pengelola keuangan, kita harus punya dana likuid untuk kebutuhan mendadak. Minimal adalah tiga kali pengeluaran per bulan. Saya pun mulai berinvestasi setelah tabungan sudah mencapai angka tiga kali pengeluaran.
2. Tentukan tujuan investasi. Untuk jangka panjang atau jangka pendek. Jangka panjang itu di atas tiga tahun sampai maksimal puluhan tahun. Kalau jangka pendek itu satu sampai tiga tahun. Untuk investasi jangka panjang kita bisa memilih reksadana saham atau campuran. Kalau jangka pendek bisa pilih reksadana pasar uang. Ada juga jenis reksadana lain, yaitu campuran, pendapatan tetap, dst. Bedanya ada di produk. Kalau reksdana saham 100% produknya berupa saham. Kalau reksadana pasar uang itu berupa deposito dan obligasi. Kalau campuran biasanya terdiri dari saham, obligasi, deposito.
Kalau saya pilih saham dan pasar uang. Saham untuk jangka panjang, pasar uang untuk jangka pendek. Tujuan reksadana saham saya untuk jangka panjang, sampai saya bahkan belum kepikiran buat apa. Mungkin untuk uang pensiun. Jadi itu benar2 dana yang Inshaallah nggak akan saya ambil sampai nanti kalau mungkin sudah tua. Untuk jangka pendek, saya pilih pasar uang. Tujuan investasi jangka pendek saya juga sebenarnya belum tahu, haha. Yaa mungkin buat kebutuhan mendadak atau misalnya kalau mau sekolah lagi, mau liburan yang agak jauh, atau untuk biaya nikah. #eaa.
Idealnya kita memang menentukan tujuan pemakaian uangnya untuk apa, jadi bisa dihitung di awal dan ditentukan berapa yang harus kita setor setiap bulan. Manager investasi akan membantu menghitung dengan mempertimbangkan minimal return dan resiko. Kebetulan saya masih single dan belum ada rencana apa2, jadilah tujuan investasi saya adalah tanpa tujuan. Tujuan sebenarnya supaya saya lebih disiplin mengelola keuangan. Karena namanya juga wanita, godaan belanja itu luar biasa. Udah ga punya kartu kredit nih, tapi belanja sekarang bisa pake debit. Udah sengaja nggak bawa uang banyak, tapi tetep bisa gesek. Sulit lah pokoknya kalo melawan godaan itu. Makanya harus terapkan prinsip saving before spending. Kalau saving nya di reksadana kan jadi susah diambil, harus isi form dulu, dana baru cair beberapa hari kemudian.
2. Pilih manager investasi dan tentukan produknya. Cara memilihnya sudah saya jabarkan di atas ya. Kalau masih bingung ya anggap aja kita mau beli kopi. Kan ada banyak merek mulai dari kapal api, luwak, top, dst. Ya tinggal pilih aja salah satu sesuai selera, yang penting pas kita cari2 infonya, perusahaan itu tidak bermasalah. Pokoknya produk sesuai dengan kemampuan kita aja dan kinerja reksadana terbukti baik.
3. Kalau sudah yakin tinggal telepon deh kantornya, nanti mereka akan kirim orang untuk janjian ketemuan. Kita bisa ke kantornya, atau bisa janjian di luar kantor. Waktu itu saya janjian di tempat makan deket kosan biar gampang. Satu lagi janjian di kantor saya (kebetulan dua produk reksadana saya berasal dari dua perusahaan yang berbeda. Biar apa? ya nggak apa - apa). Tanyakan apapun soal reksadana ke manager investasi, mereka akan jawab dengan ngasih data lengkap kok.
4. Setelah punya reksadana jangan lupa dilihat kinerjanya. Reksadana bukan seperti saham yang harus dipantau setiap hari. Tapi paling nggak diliat lah sebulan sekali. Jangan panik kalau reksadana saham tiba2 nilainya turun. Nggak papa, nanti juga naik lagi karena volatilitas saham memang tinggi. Makanya lebih cocok untuk investasi jangka panjang. Tapi buat teman- teman yang dalam jangka waktu tertentu kurang puas sama kinerja reksadananya, bisa mulai atur ulang portofolionya. Bisa pindah ke produk lain atau ke perusahaan manager investasi lainnya.
Yang lebih stabil tentu pasar uang. Makanya jenis reksadana ini bisa dicairkan dalam jangka pendek dengan minim resiko. Tapi ya namanya investasi, high risk high return. Makin tinggi resiko, makin tinggi imbal hasilnya. Kalau resiko rendah ya imbal hasil juga rendah. Saya sendiri cukup hati - hati juga soal ini. Makanya dari semua total reksadana saya, yang ada di saham sekarang sekitar 30% saja, 70% saya taruh di pasar uang.
Sampai sekarang saya belum pernah mencairkan reksadana. Pernah sekali karena waktu itu saham naik tinggi, terus diajarin buat profit taking. Tapi habis itu bingung uangnya mau dipake buat apa. Dua hari kemudian uang itu saya masukkan lagi ke reksadana (nggak guna ya, imbal hasilnya juga sebenernya masih kecil wong ya tabungan reksadana saya juga kecil...). Karena dari awal juga bukan untung maksimal yang saya cari, tetapi supaya saya bisa lebih bijak aja mengelola keuangan. Kan kalau lihat ada return jadi sayang uangnya buat dibelanjakan. Saya juga nggak disiplin sih, nggak selalu tiap bulan beli reksadana. Padahal bisa autodebet sebenarnya.
Ulasan yang panjang lebar ini sepertinya lebih cocok untuk para single seperti saya. Kalau sudah berkeluarga strategi investasinya mungkin lain lagi. Karena mungkin kebutuhan jadi lebih banyak. Makanya, mumpung masih single, yuk kita investasi!
Sabtu, 11 Maret 2017
Empat tahun jadi jurnalis, betah juga
Mei 2013, saya akhirnya memantapkan diri untuk resign dari Sindo TV, dan beralih profesi sebagai jurnalis di harian KONTAN.
Sekarang sudah masuk tahun ke-4 di Kontan. Wow, nggak berasa, ternyata betah juga.
Delapan bulan pertama liputan hukum di Pengadilan Niaga, masuknya di kompartemen nasional. Sekitar delapan bulan berikutnya, masuk kompartemen investasi nulis rekomendasi saham dan IHSG. Lalu berlanjut ke aksi korporasi, masih masuk termasuk kompartemen investasi sampai sekitar delapan bulan. Sekarang masih di investasi juga tapi nulis soal komoditas.
Awal masuk Kontan, saya masih "buta" ekonomi. Semua yang saya temui di Kontan adalah hal baru. Ketika liputan hukum, ketemu dengan istilah PKPU, pailit, pelanggaran merek, sampai ketemu berkas gugatan 500 halaman bahkan lebih waktu liputan kasus korupsi di KPK dan Pengadilan Tipikor.
Inget banget waktu awal - awal nulis berita korupsi dari berkas dakwaan sekitar 500 halaman. Sampai jam 8 malam nulis lead berita (satu paragraf di awal) aja nggak jadi-jadi. Nggak tahu mau mulai darimana & gimana caranya meringkas 500 halaman jadi satu halaman aja. Nggak paham mana yang paling penting karena buat saya (yang waktu itu masih anak bawang banget) semua terlihat penting.
Saat pindah di desk investasi, saya menemui istilah IHSG, BEI, saham, dan istilah lain yang lebih teknis. Demikian juga di komoditas, banyak istilah- istilah yang baru saya temui. Pada akhirnya, saya kembali belajar dan belajar lagi. Mulai banyak membaca, banyak bertanya dan berdiskusi.
Tantangan selalu ada, apalagi ketika masa awal liputan. Sebagian narasumber ragu kalau saya bisa memahami ucapan mereka. Sebagian lainnya mau dengan baik hati menjelaskan berulang - ulang sampai saya paham. Kuncinya satu, kalau masih baru dan belum paham ya jujur saja. Nggak usah sok pinter lalu bingung waktu akan menuliskan hasil wawancara.
Salah satu keuntungan sebagai jurnalis adalah, kita bisa berlajar langsung dari ahlinya. Saya sebagai jurnalis ekonomi belajar hukum perdata dari para pengacara, hakim, hingga panitera. Belajar investasi dari analis sampai kepala riset. Belajar memahami perusahaan langsung dari direkturnya. Bahkan banyak teman-teman jurnalis yang (menurut saya) lebih beruntung karena bisa setiap hari ngikutin pejabat, mulai anggota DPR, menteri sampai presiden.
Saya mah apa, masih banyak area liputan yang belum dirambah. Makanya meski sudah tahun keempat, saya masih begitu menikmati profesi jurnalis. Soalnya, saya sendiri masih nunggu setelah ini akan dipindah ke desk liputan apa lagi?
Selasa, 21 Februari 2017
Hari - hari di Sindo TV
Sudah agak lupa bagaimana pertanyaan pada saat wawancara kala itu. Tapi yang jelas saya ingat ketika HRD bilang, "Ada yang mau ditanyakan?" saya langsung tanya apa itu creative dan job desknya apa saja. Lalu di program seperti apa saya akan ditempatkan.
Program pertama saya ternyata TV Magazine, judulnya Apop News. Eaaa, pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya sudah familiar dengan bentuk tayangan TV Magazine karena sama dengan TKA saya. Sementara Apop News adalah program hiburan seputar selebriti Asia, terutama Korea Selatan yang lagi hitz. Sebagai penikmat drama dan musik Korea, saya sama sekali tidak menemukan kesulitan di program ini. Malah seneng, karena punya kesempatan liputan langsung setiap ada konser artis Korea di Indonesia.
Saya juga sempat pegang program lain, Referensiana dan Rehat Siang. Referensiana adalah talk show seputar referensi untuk wanita, termasuk masalah kecantikan, kesehatan, sampai keuangan. Kalau Rehat Siang acara jalan-jalan, bentuknya juga magazine. Kalau di program Apop News bisa nonton konser gratis, di program Rehat Siang sering ikut jalan - jalan gratis (sambil kerja tentunya). Paling seneng kalau sudah keluar kota, hihiii.
Sebelum memutuskan resign, saya juga sempat membantu pembuatan program dokumenter Warkop DKI dan terlibat di program musik Tangguh.
Oh iya, tugas atau jobdesk creative itu apa sih? Beberapa pekerjaan yang saya lakukan sebelum syuting antara lain memikirkan ide tema pada setiap episode tayangan, membuat rundown acara, dan menentukan daftar pertanyaan untuk MC talk show. Ketika syuting, baik siaran live atau tapping (siaran yang direkam terlebih dahulu untuk ditayangkan setelahnya), saya berkoordinasi dengan produser lapangan agar pengambilan gambar sesuai dengan rundown. Saya juga melakukan briefing kepada MC dan narasumber. Lalu setelah proses syuting selesai (untuk tapping), saya membuat script untuk voice over (narasi yang mendukung video). Terakhir, mendamping editor agar proses editing sesuai dengan rundown awal.
Setiap program televisi dikerjakan oleh satu tim yang terdiri beberapa posisi, seperti Produser, Asisten Produser, Production Assistant, Creative, Cameraman dan Editor. Semua memiliki tugas dan fungsi masing-masing. Tanggung jawab acara tentu ada di Produser.
Selama delapan bulan di Sindo TV, ada banyak hal yang saya pelajari, banyak pengalaman yang saya dapatkan. Meski begitu, saya akhirnya memutuskan untuk keluar alias resign di bulan ke-8, Mei 2013.
Menemukan pekerjaan pertama
Pengalaman kuliah sebenarnya membuat saya justru tidak ingin bekerja di media. Repotnya menjadi jurnalis, liputan ke lapangan, mencari narasumber, keringetan, bau badan. Duh, males lah!
Saya mau jadi orang kantoran saja, pake baju rapi, kerja pake AC, wangi, gaji besar. Dimikian cita - cita saya saat itu.
Tapi sisi lain saya juga mengatakan," Tapi sayang sih kalo ilmu kuliah nggak diterapkan dulu. Setahun - dua tahun boleh lah mencoba dunia jurnalistik."
Akhirnya saya berserah pada takdir. Dari sekian banyak CV yang saya kirim, lalu mengikuti berbagai tes dan interview, nasib mengantarkan saya ke pekerjaan pertama sebagai creative di sebuah stasiun TV swasta, Sindo TV.
Saya resmi bekerja mulai Oktober 2012, sekitar satu bulan setelah wisuda. Tentu saya sangat bersyukur karena tidak butuh waktu lama untuk menemukan pekerjaan. Di luar sana, banyak sekali lulusan Universitas yang masih menganggur bahkan hingga bertahun - tahun. Ibu saya berkali - kali mengucap syukur Alhamdulillah ketika saya kabari.
Sabtu, 29 Oktober 2016
September 2012, Wisuda Tanpa Rasa
Wisuda adalah salah satu moment yang paling membahagiakan dalam hidup seseorang. Bukan hanya bagi wisudawan yang akhirnya bisa membuktikan kemampuan akademisnya, membanggakan orang tuanya, tetapi juga bagi orang tua yang akhirnya lega karena berhasil mengantar sang anak hingga menjadi sarjana.
Maka tak heran jika banyak sarjana beserta keluarganya tampil maksimal saat wisuda. Sudah ke salon sejak pagi, menyewa atau membeli kebaya terbaik, setelah upacara wisuda siap antri panjang untuk ambil 'photo studio'. Hasil foto itu yang akhirnya dicetak dengan ukuran besar dan mejeng di ruang tamu rumah masing - masing.
Memakai jubah hitam dengan slaber oranye (toga FISIP UI) sudah menjadi impian saya sejak melangkahkan kaki ke kampus perjuangan. Saat masih pakai kemeja dan rok putih menyanyikan lagu dari gaudeamus igitur sampai keroncong kemayoran bersama ribuan mahasiswa baru pada moment wisuda angkatan 2004 di bulan Agustus 2008 silam.
Setelah impian itu akhirnya tercapai, saya tentu bahagia. Tetapi, saat paling bahagia bukan ketika memakai toga melainkan saat Mas Awang Ruswandi, ketua sidang TKA saya bilang,"Wuwun, selamat kamu dinyatakan lulus."
Sebenarnya agak berlebihan kalau dibilang wisuda tanpa rasa, tapi persiapan wisuda saya sebenarnya biasa saja. Mungkin karena sudah terlalu capek menyiapkan sidang dan setelah sidang lebih fokus ke mencari pekerjaan. Kakak senior dan teman - teman yang sudah lulus terlebih dahulu juga bilang, "Wisuda itu adanya cuma ribet. Di sekitaran Balairung rame banget sampai macet karena da ribuan wisudawan dan keluarganya, harus pagi - pagi ke salon, pokoknya ribet banget."
Tidak ada cerita nangis - nangis berpelukan sungkeman ke orang tua saat wisuda. Nggak badmood sampai akhirnya pulang saja sudah Alhamdulillah, haha. Kebaya wisuda dijahit di Purworejo biar murah, saya pun dandan sendiri dengan bedak tipis dan minta lipstik bulik yang warnanya agak merah. Pake kerudung ala - ala yang dibikin sendiri. Photo studio? Nggak ada!
Persiapan wisuda saya upayakan seirit mungkin, sing penting wis lulus, batin saya. Soalnya, biaya TKA itu mahal lho. Buat transport, bayar editor, cameramen, talent, presenter, beli printilan liputan,dll. Kalau ditotal sampai jutaan lah. Sementara buat foto wisuda sekitar Rp 300 ribuan, terus nyalon bisa Rp 200 ribuan. Duh, nggak enak kalau minta lagi ke orang tua (Dua bulan sebelumnya udah minta banyak buat TKA). Belum lagi ada orang tua datang ke Jakarta kan pake biaya juga, pokoknya waktu itu serba ga enak.
Dan benar saja, Wisuda hari Jumat sore, 7 September 2012. Yang datang ada kedua orang tua saya, Paklik, Bulik, Audra (ponakan, cucunya bulik) dan Kakak saya. Bapak sama Paklik nggak mau dong berangkat sebelum Jumatan, mereka mau sholat Jumat dulu. Akhirnya baru jalan dari rumah Paklik jam 1an padahal upacara wisuda jam 3. Kalau saya biasa ke kampus naik motor lewat jalan belakang sih cuma sekitar 15 menit dari rumah. Tapi ini kan pake mobil dari gerbang depan. Karena yang diwisuda ribuan mahasiswa akhirnya macet dari depan gerbang utama UI (sudah kuduga!).
Saya dan orang tua turun di tengah jalan, lalu jalan kaki sampai Balairung yang jaraknya masih sekitar 400 m. Paklik sama Bulik nyari tempat parkir dulu, saya nggak ketemu mereka sampai upacara wisuda selesai. Setelah selesai wisuda pulangnya pun terpisah. Paklik dan Bulik sama Audra mau sholat dulu di Masjid UI setelah itu ambil mobil yang parkirnya entah dimana. Setelah pamit sholat mereka susah dihubungi karena saking banyaknya orang akhrinya nggak ada sinyal. Pengumuman lewat toa buat nyari anggota keluarga laku keras, haha. Saya bersama orang tua dan kakak berinisiatif buat pulang duluan, jalan sampai depan dan naik taksi.
Selang beberapa bulan setelah wisuda, orang tua saya tanya, "Kenapa foto wisuda nggak dicetak terus dipajang?". Saya cuma bisa jawab," Fotone elek pak." kekekeke ~
| Foto Wisuda bareng Orang Tua dan Kakak yang tidak layak cetak :p |
Juni 2012, Sidang dan Pengumuman Kelulusan (2)
Pembimbing saya, mbak Rosy saat itu tidak puas dengan hasilnya. Presentar kaku, terlihat kurang berpengalaman, tidak bisa menyajikan informasi dengan baik (memang iya, saya yang sudah 4 tahun kuliah penyiaran belum tentu bisa kalau nggak bakat jadi presenter, apalagi mereka masih anak2 dan bukan artis atau presenter). Lokasi syuting cuma di sekitar FISIP UI, tidak menunjukkan adanya usaha.
Mbak Rosy meminta presenter dan lokasi syuting diganti. Kalau tidak, saya bisa mendapat masalah saat sidang, karena pasti ditanyakan oleh penguji. Kalaupun lulus, nilai saya bisa jelek, dan pembimbing saya tidak mau itu terjadi. TKA sudah dibuat dengan susah payah, memakan waktu lama ( satu semester, bahkan lebih kalau dihitung dari pembuatan outline ), sayang sekali kalau hasilnya tidak maksimal. Mbak Rosy menyampaikan itu dengan sangat lembut, tapi saya dalam hati sudah nahan tangis, berasa langit runtuh (hiperbola lagi).
Selesai bimbingan saya langsung nyari spot buat nyolok laptop dan pake hotspot (waktu itu di gedung Komunikasi). Buru-buru buka laporan TKA, tapi nggak tahu mau ngapain. Ada beberapa yang harus direvisi, tapi nggak bisa mikir. Karena masalah terbesar adalah revisi dummy.
Dummy untuk TKA saya dibuat dalam waktu sekitar satu bulan, melibatkan banyak pihak mulai dari presenter, reporter, cameramen, dan editor. Gimana caranya diulang hanya dalam waktu kurang dari satu minggu?
Pertama, presenter harus diganti. Berarti saya harus mencari presenter baru, tapi yang memiliki bakat host. Nyari anak begitu nggak segampang nyari tukang bakso pas lagi hujan.
Kedua, presenter diganti berarti harus syuting ulang. Saya butuh cameramen juga, siapa yang bisa? teman - teman saya waktu itu juga sibuk mempersiapkan sidang, termasuk yang membantu syuting saya di dummy awal. Angkatan di bawah saya (anak komunikasi 2009 atau 2010) sudah libur semester karena kuliah terakhir kalo ga salah akhir Mei, sebagian besar pasti sudah tidak di Depok.
Ketiga, harus diedit ulang juga. Padahal teman yang membantu ngedit tinggalnya di Bekasi. Dummy pertama diedit dalam waktu sekitar satu minggu, untuk dummy kedua harus selesai kurang dari dua malam. Mau sim salabim prok prok prok biar jadi?!
Di tengah kebingungan itu, mata rasanya sudah panas banget, tinggal disenggol dikit air mata siap mengalir deras (ditahan - tahan banget karena gedung Kom lagi rame. Ada yang mojok juga buka laptop, ada yang mau bimbingan juga, ada yang nongkrong2 aja selesai kuliah).
Dan akhirnya ada teman yang sepertinya tahu saya punya masalah besar. Gilang (teman satu prodi jurnalisme, ketua angkatan 2008) nyamperin. Cukup dengan pertanyaan yang kalo ga salah bunyinya cuma," Lo kenapa Wun?" bisa membuat tangis saya pecah, sejadi - jadinya. Enggak teriak sih, nangisnya enggak bersuara juga karena rame kan malu. Tapi nangis yang sampe sesenggukan, rahangnya sakit, nggak bisa ngeluarin satu kata pun, padahal pegen cerita banget sama pengen minta bantuan. Lalu teman saya yang lain, Astrid yang biasa dipanggil Lele (teman satu bimbingan TKA, punya dia TV Magazine juga tapi tentang KPOP) juga datang. Kalau nggak salah, saya sama Lele habis bimbingan bareng, jadi dia tahu masalah soal dummy harus diganti.
Gilang dan Lele akhirnya berusaha membantu saya. Haha, inget banget waktu itu Lele semacam mendikte list apa - apa yang harus saya lakukan setelah ini, siapa kandidat potensial yang bisa jadi presenter dan cameramen saya beserta nomer hapenya, sampai kapan bisa mulai syuting dan ngasih hasilnya ke editor. Dia dikte dan saya catat sambil sesenggukan (hahahahaha, ya ampun masa2 itu ~~). Terima kasih kalian (Gilang yang sekarang mantap sebagai PR di Indocement, masih sering ketemu terutama pas liputan dan Lele yang sekarang keren banget jadi PNS di Kemenpar kerjaannya ke luar negeri melulu, pas ke New Zealand aku super iri!).
Singkat cerita (dengan penuh perjuangan, beberapa hari nggak bisa tidur tenang, beberapa kali ditolak sama calon2 kandidat presenter) akhirnya saya dapet dua presenter, ada Jojo dan Landra (Komunikasi 2010, adik angkatan) yang berperan sebagai presenter. Landra yang sudah berusia 20 tahun harus memerankan anak usian 13 - 15 tahun. Ada juga Gita (Komunikasi 2010) dan Faisal (Komunikasi 2008, teman satu prodi jurnalisme) yang membantu sebagai cameramen. Saya agak lupa, Faisyal kalo ga salah bantu di dummy pertama, yang dummy versi revisi dibantu Gita apa ya. Berhasil dapat lokasi baru juga buat syuting di TK Kukusan, belakang kampus.
Dengan bantuan mereka, syuting terlaksana dengan cepat dan Alhamdulillah lancar. Terima kasih kalian (Jojo yang sekarang kalo ga salah lagi dapet LPDP S2 di Leeds, udah lulus belum ya?, Landra dan Gita sukses jadi persenter kece di NetTV dan Faisal jadi PR nya kedubes Jepang di Indonesia. Kalau sama Faisal belakangan suku kontak2an mengingat Kontan lagi seneng ngepoin kerjasama Indonesia-Jepang di pembangunan infrastruktur). Oh iya, saya sendiri sekarang berprofesi sebagai jurnalis ekonomi di harian Kontan! Yeay, sesuai sama cita2 yang saya tulis di profil blog ini. (Nanti mau cerita ini juga, lalalala ~)
Dengan segala daya dan upaya serta berkah rahmat Allah yang Mahakuasa, hari Rabu, 13 Juni 2012 saya maju sidang TKA. Alhamdulillah lulus. Nangis juga waktu itu. Mbak Rosy yang lihat saya nangis bilang begini," Kenapa nangis, sidang kamu termasuk gampang lho. Pertanyaannya juga tidak susah - susah banget kok, untung dummy nya sudah diganti juga."
Itu tangisan lega mbak, terharu bersyukur gimana lah. Nggak kebayang kalo ga jadi lulus empat tahun mau bilang apa sama orang tua yang susah-susah ngirim uang tiap bulan. Gimana malunya sama Bulik dan Paklik yang ngasih makan + tempat tinggal empat tahun.
| Sidang TKA, 13 Juni 2012. Sengaja memilih sidang terbuka, supaya teman2 bisa lihat dan saya jadi nggak grogi. |
| Kiri - Kanan : Mas Awang (Ketua Sidang), Mbak Rosy (Pembimbing), Saya , Mbak Asty (Penguji), Mas Helmi (Sekretaris Sidang) |
Selain nama-nama yang terlibat di "Drama" TKA, ada banyak teman yang membantu dalam proses pembuatan TKA kok, maapin yes nggak disebutin. Tapi semua disebut di halaman terima kasih kok, hahaha...
Buat yang kepo TKA saya seperti apa, ternyata bisa diunduh gratis di link ini (baru tahu juga setelah iseng googling judul TKA, whehehehe ~). Kalau mau dibaca, dijadikan referensi boleh, tapi jangan dijiplak yaa.. Biarpun nggak sempurna, itu bikinnya pake drama bukan pake magic.
Kalo mau lihat dummy nya langsung japri aja! :D
Juni 2012, Sidang dan Pengumuman Kelulusan (1)
Blog ini lahir tahun 2009, ketika saya masih kuliah di tahun kedua. Saat itu memang banyak teman - teman yang aktif menulis di blog, jadi saya banyak belajar dari mereka. Tapi ya begitu, bisa dibaca di tulisan - tulisan sebelumnya, ternyata postingan blog saya sebagian besar nggak penting. :D
Moment penting soal kelulusan malah nggak ditulis. Duh, Wuwun!
Bulan Juni tahun 2012 adalah masa paling nano-nano dalam hidup saya. Ibaratnya mau menghadapi vonis antara hidup dan mati (enggak selebay itu sih~), tapi ini masalah lulus dan tidak lulus. Kalau lulus, berarti pas empat tahun saya kuliah. Tidak terlalu lama meski tidak bisa dibilang singkat juga. Karena ada banyak juga teman saya yang berhasil lulus dalam waktu 3,5 tahun. Amazing!
![]() |
| Bungan ucapan selamat untuk geng 3,5 tahun dari kami yang belum lulus saat wisuda ganjil, Februari 2012 |
Saya lulus dengan membuat Tugas Karya Akhir (TKA) - bukan skripsi. Itu pilihan lebih mudah untuk saya yang lebih terlihat praktis dibanding teoritis. IPK pun sedang - sedang saja, tidak sampai cumlaude. Ada beberapa dosen pada program Studi Jurnalisme Siar yang saat itu saya mintai saran. Sebut saja mas Awang Ruswandi, Mbak Rosy Tri Pagiwati, Mbak Asty Rastiya, Mbak Donna (Hampir semua dosen di Komunikasi UI dipanggil dengan sebutan mbak dan mas/abang). Setelah ngobrol dengan mereka, saya mantap dengan TKA.
Outline TKA sudah mulai saya buat sejak semester ketujuh. Karena di semester 7 masih banyak mata kuliah, ga kepegang juga itu TKA dan akhirnya berlanjut di semester delapan.
Pembuatan skripsi, TKA, tesis dan sejenisnya (syarat kelulusan ketika mau lulus kuliah) pasti penuh drama. Mungkin hampir semua yang mengalami punya dramanya sendiri. Kadang drama cukup panjang sampai bertahun-tahun nggak jadi-jadi itu skripsi, tokoh utama akhirnya menjadi mahasiswa abadi.
Drama saya cuma satu minggu. Tepatnya satu minggu sebelum sidang TKA, drama dimulai. Saya yang akan menjalani sidang pada hari Rabu, 13 Juni 2012 melakukan bimbingan terakhir dengan mbak Rosy pada hari Kamis, 7 Juni 2012 (Untung masih ada foto2 sidang, jadi tanggalnya nggak salah :p).
Ada sedikit revisi pada laporan TKA. Yang ini tidak terlalu sulit, hanya ganti beberapa kata atau konsep, menghapus yang tidak perlu atau menambah beberapa kalimat yang kurang. Bisa diketik satu dua malam saja.
Tetapi selain itu, ada yang harus diulang. Iya, bukan dihapus atau dikurangi tetapi diulang alias diganti. Yang harus diulang adalah prototype atau dummy TKA. Video program televisi saya berdurasi 15 menit, lengkap tiga segmen. Presenter harus diganti dan beberapa isi program juga diubah. Jeng jeng jeng!!
Kenapa itu harus diulang? Bersambung ya, udah kepanjangan :D
Jumat, 28 Oktober 2016
Memulai Kembali
Belakangan ini entah kenapa saya kepengen nulis blog lagi. Entah dari kapan saya lebih aktif di media sosial. Facebook, instagram, path, semua punya. Posting di ketiga media sosial itu hampir setiap hari, bahkan mungkin sampai hal paling tidak penting pun saya unggah.
Lalu tiba - tiba kepikiran, kenapa tidak menulis lagi? Karena menulis atau mengunggah gambar di ketiga media sosial yang saya sebut tadi sangat terbatas. Kalau mau nulis status pasti pendek, padahal pengennya cerita panjang lebar.
Padahal, dulu saya sempat aktif ngeblog, dengan tulisan yang kadang nggak penting juga sih. Ralat, dengan tulisan yang sebagian besar tidak penting.
Dulu yang dimaksud adalah lima tahun lalu, ketika saya masih menikmati masa kuliah. Saya menulis karena suka dan supaya semakin lancar bertutur lewat kata. Kan cita - citanya mau jadi jurnalis yang salah satu kewajibannya menulis.
Kenapa saya dulu berhenti ngeblog? Hiks, nggak tahu sih. Mungkin karena malas. Saya punya dua blog sebenarnya, satunya di wordpress. Blog itu pun sudah lama tidak saya update.
Saya memilih melanjutkan update di blog lama ketimbang membuat blog baru. Alasannya, saya masih sayang dengan blog lama. Dan benar saja, ketika buka blog ini lagi banyak tulisan yang membuat tertawa cekikikan sendiri. Ya ampun Wuuuun, hahahahaha...
Wuwun si anak kuliahan itu nulis blog bener-bener seenaknya aja ya, kadang tulisan berisi yang bikin kamu keliatan agak pinter, ketahuan mahasiswa lah. Tapi sebagian besar tulisan ga penting banget, pake bahasa elu-gue lagi, anak Jakarta banget nih.. bhahahahaha ~~
Karena keterbatasan manusia, pengalaman menarik, berharga, berkesan bisa saja terlupakan. Tetapi semua bisa tersimpan dan terekam dengan apik ketika disampaikan lewat tulisan. Lebih bagus lagi jika bisa dijadikan contoh buat orang lain atau pembelajaran buat diri sendiri.
Ada banyak cerita dalam lima tahun terakhir yang belum sempat saya tulis, semoga bisa tersampaikan semua, sebelum lupa ~~~
Kamis, 02 Juni 2011
Ga Tau, Baca Aja
Gue kasih background story dulu kali ya, kalo kata wartawan2..
Jadi hari ini di kalender itu tanggalnya merah, tapi gue buat tulisan ini di kampus, di belakang gedung komunikasi FISIP UI. Ceritanya gue mau ngerjain tugas UAS bareng kelompok gue, kebetulan nama tugasnya Priduksi Feature Radio. Jadi kita berkelompok 5 orang bikin satu feature radio gitu.
Asiknya kampus gue, biarpun libur gini hotspot masih tetep jalan. jadilah di belakang gedung komunikasi ini banyak temen-temen gue yang juga pada ngerjain tugas . Salut deh buat gue & temen-temen! Kita emang keren banget, pendidikan itu penting, lebih penting dari liburan...
Ini foto temen-temen keren gue yang lagi pada nongkrong di belakang gedung kom di saat kalender bilang hari ini libur alias tanggal merah...

Rabu, 28 April 2010
Handphone aku ilaaaaaaaaang!!!
-->
Dirundung Sial
-->
Senin, 26 April 2010
siapa pelindung Warga Cina Benteng?
(buat yang belum tahu beritanya dapat liat di http://www.tempointeraktif.com/hg/tata_kota/2010/04/27/brk,20100427-243445,id.htm)
Jujur, mata saya berkaca-kaca saat melihat seorang reporter mewawancarai salah satu warga Cina Benteng tersebut, seorang kakek tua keturunan Cina (saya lupa namanya) yang sehari-hari berprofesi membantu anakanya membuat somay untuk dijual. Hasil penjualan somay hanya cukup untuk makan satu keluarga. Menurut saya kisah ini jauh lebih menyedihkan daripada kisah di film korea "A moment To Remember" atau "Daisy" (buat yang udah pernah nonton film itu pasti tahu betapa menyedihkannya kisah dalam film itu).
Si kakek warga Cina Benteng itu sudah tua renta, mungkin umurnya sudah lebih dari 80 tahun. Dia tidak tahu mau kemana jika tempat tinggalnya sekarang benar-benar digusur.
Yang ironis berita tersebut muncul setelah berita seputar markus pajak yang menggelapkan uang negara hingga milyaran rupiah. Sementara para koruptor berfoya-foya, warga Cina Benteng menangis kebingungan mencari tempat tinggal.
Selain si kakek, masih banyak warga Cina Benteng yang membutuhkan tempat tinggal. Meskipun mereka keturunan Cina, namun mereka adalah warga negara Indonesia yang seharusnya dilindungi oleh undang-undang. Pasal 34 ayat 1 UUD 1945 menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.
Yang menadi pertanyaan saya, siapa yang akan melindungi warga Cina Benteng?
Senin, 19 April 2010
laundry...laundry..
ada beberapa alasan kenapa gue ga pernah nge-laundry
1. Gue agak sedikit parno dengan tukang laundry. Yaaa kan kita ga pernah atau nyucinya gimana, bersih / nggak, gimana kalau kelunturan?!!emang tukang laundry mau tangung jawab?
2. Kegiatan nyuci baju menurut gue bagus juga buat olehraga, haha. Secara gue tiap hari kuliah, tugas, rapat, kuliah, tugas, makan, tidur, kuliah, rapat, ga ada waktu buat olahraga. Jadi disaat nyuci baju, saat itulah gue olah raga, hihii.
3. Gue sayang sama duitnya, daripada buat bayar tukang laundry, mending buat beli jajan kaaaaaan??? Lebih bagus lagi ditabung..:)
Dua tahun gue kuliah di Jakarta, prinsip untuk tidak mau nge-laundry berhasil gue pertahankan dengan baik...dan gue bangga..hahaha
Tapi hari ini prinsip itu gugur segugur gugurnya. Gue udah ga ngerti lagi gimana buat bagi waktu minggu-minggu ini. Baju bersih gue udah hampir habis, dan gue baru sempet nyuci besok hari sabtu/minggu. Ditambah lagi tante gue, orang yang selama ini nyediain tempat tingggal buat gue baru aja beli panci baru Happy Call (itu lho panci dari korea yang iklannya suka di o channel, yang bagus dan kayaknya bikin makanan sepuluh kali lebih enak dariapada dimasak di panci biasa). Jadi besok sabtu/minggu gue pengen nyobain itu panci buat bikin kue atau sekedar goreng telur..
Jadi, bener-bener laundry adalah solusi yang tepat!!
Horeee, punya template baru
Bahkan gue sebenernya belum sempet belajar banyak tentang blog2an ini ..haha, blog beneran maksudnye..
Eh, tadi akhirnya ketemu temen yang mau gue paksa ngajarin ngubah template.. Ternya ta ga sesusah ngerjain soal kkimia kelas tiga SMA...
tara!! sekarang tampilan blog gue udah lain deh...^^
Jumat, 16 April 2010
malas blogging dan kamera rusak
Itu yang dulu saya lakukan saat pertama membuat blog ini. Apapun saya tulis dengan bahasa yang nggak karuan.. Yang penting nulis lah. Sebenarnya sekarang juga sama saja, apapun yang ingin saya tulis ya tinggal di tulis. Tapi sekarang justru lebih parah lagi. Saya bingung mau nulis apa, padahal banyak hal yang bisa saya tulis.
Blog ini hanya saya gunakan di awal-awal saja, ketika baru dibuat. Mungkin waktu itu saya lagi seneng-senengnya punya blog baru.
Gak tau kenapa saya tipe orang yang cepat bosan dengan suatu hal (catatan: dengan suatu hal, bukan dengan seseorang..:)).
Mungkin ini karena kamera saya rusak. Lho apa hubungannya? Ya ada lah! Setiap menulis blog saya selalu berusaha untuk menyertakan foto dengan tujuan agar orang yang membaca dapat lebih mudah mengerti apa yang saya tulis. Ketika saya tidak punya foto untuk memperjelas tulisan saya, saya pun menjadi malas untuk menulis.
Tentang kamera saya yang rusak, saya sungguh ingin bercerita.. :'(
Rabu, 02 Desember 2009
Update blog
memasuki semester 3 ini gw merasa lain....kenapa??
saat semester satu gw sibuk bgt karena ada acara prasar & sar (ospek jurusan). Hampir tiap hari gw pulang malem, ngerjain tugas dari senior2 ..
Memasuki semester dua, gw lebih nyantai..Setelah mengalami "happy ending" ospek, di semester dua ini gw merasa hidup gw lebih dari normal, meskipun banyak tugas2 kelompok dan presentasi...
Gw merasa beda ketika memasuki semester tiga dan memilih peminatan "jurnalistik". Gw seperti mengalami sebuah kehidupan baru...Suatu skenario baru yang belum pernah gw bayangkan...Bertemu dengan mata kuliah baru, dosen baru, dan tugas baru..
Mau dibilang sibuk, enggak juga..Mau dibilang nganggur juga enggak!! Tapi ga tau kenapa waktu gw seperti banyak tersita untuk kuliah dan tugas!!padahal gw sama sekali ga merasa sibuk atau kekurangan banyak waktu..mungkin karena gw juga ga terlalu suka main kali ya?!!jadi bisa dibilang keadaan ini adalah dimana waktu yang gw punya "cukup" untuk kegiatan gw, ga kurang dan ga lebih..
Emang sebelumnya banyak teman2 yang bilang kalo anak jurnal tu paling sibuk diantara jurusan ayng lain (di tempat gw kuliah, jurusan komunikasi dibagi 4, yaitu jurnalistik, periklanan, hubungan masyarakat, dan komunikasi media).
Sebenarnya ada banyak waktu senggang juga sih...gw ga terlalu "ngoyo" jg kalo ngerjain tugas..Hari sabtu dan minggu kebanyakan gw di rumah. Melakukan pekerjaan rumah, nonton TV,maen2 bareng ponakan, dll.. Oia, gara2 banyak temen2 komunikasi yang suka film korea, gw juga akhirnya ketularan.. Jadilah sabtu dan minggu gw sering nonoton film korea yang berseri-seri itu!!
Dan ga terasa sekarang udah memasuki bulan desember. Ga nyampe 2 minggu lagi gw akan menjalani UAS. setelah gw lulus dengan ip 3,5 (AMIIIIIIN), gw akan memasuki semester 4 yang gw yakin akan berbeda juga dari semester 3 (ya iyalah!!!).
Semua juga tahu kalo tiap semester pasti berbeda dgn semester sebelumnya, tapi perbedaan kali ini "lain" (aduuh, bahasanya agak belibet..tidak mencerminkan anak jurnal!!hehe..). Di semester 4 ini gw akan mengambil "jurnalistik siar" karena peminatan jurnalistik masih dibagi lagi menjadi dua, yaitu siar dan cetak. Gw agak sedikit harap2 cemas menanti sebuah episode baru dalam dunia perkuliahan gw...
Jumat, 12 Juni 2009
Realita Reality show di Just Alvin
Semalam aku nonton tayangan Just Alvin di metro TV. Temanya sangat menarik, yaitu mengenai Realita Reality Show. Reality Show adalah tayangan yang mengangkat kehidupan real seseorang tanpa rekayasa. Tokohnya pun orang-orang biasa, bisa pengamen, pengemis, mahasiswa, dll.
Acara Just Alvin semalam mengupas tuntas tentang Realita Reality show dengan menghadirkan Helmi Yahya, Fani Rahmasari, dan Ade Armando sebagai bintang tamunya.
(kata bang Ade, " ga semua relity show bener. Ada juga yang bo'ong2an.")
Ada banyak hal yang perlu diungkap mengenai tayangan reality show. Salah satu hal yang membuat penasaran adalah mengapa tayangan reality show bisa dikemas dengan begitu menarik jika itu tanpa rekayasa?
Ketika membuat suatu acara maka orang akan kembali lagi ke value. Seperti yang dikatakan oleh Helmi dan Fani, meskipun ini adalah tayangan reality show tetapi mereka tetap mengadakan casting. Maksudnya, mereka mencari orang-orang yang bisa menangis ketika menceritakan kisah sedihnya, histeris ketika mendapatkan banyak uang, termasuk mungkin mencari orang yang emosional, kasar, pinter berantem, memaki, dsb. (ups, habisnya kalau dilihat sekarang di setiap tayangan reality show pasti ada berantemnya..hehe). Mereka juga membuat semacam alur untuk para pesertanya.
Tayangan yang pertama kali diproduksi oleh Helmi Yahya adalah katakan cinta dan Harap-harap Cemas (H2C). “Katakan Cinta” menantang seseorang untuk berani menyatakan cintanya di depan umum dan di depan kamera. Untuk itu, kru tayangan ini mencari orang yang benar-benar berani total untuk membuat tayangan ini lebih menarik. Ini terbukti dengan mampu bertahannya tayangan katakan cinta hingga empat tahun. Sedangkan H2C adalah reality show berupa penyelidikan terhadap seseorang untuk mengungkap rahasia si target. Setelah itu muncul tayangan-tayangan reality show yang lain, yang saat ini sudah mulai menjamur di layar kaca. Pesertanya pun tak sedikit. Itu membuktikan bahwa banyak sekali orang-orang narsis, yang sudah tidak canggung lagi kehidupan pribadinya di expose. Namun demikian, tayangan ini menjadi menarik ketika ada semacam bintang baru yang berbeda dengan bintang sinetron yang sering muncul di TV. Bintang baru itu bisa tetangga kita, teman kita, juga orang-orang lain di sekitar kita. Itu yang membuat tayangan reality show berbeda.
Mengenai real atau tidaknya cerita dan tokoh yang disuguhkan, baik helmi maupun fani mengakui bahwa tidak semua tayangan reality show itu real. Ada yang ditambahi atau dikurangi, ada juga yang benar2 dibuat skenario. Bang Ade Armando juga mengatakan, ketika masih di KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) pernah mengingatkan tayangan reality show yang mengagetkan orang. Yang dipermasalahkan adalah bagaiaman kalau orangnya sakit jantung? Kemudian dari pihak acaranay bilang, “nggak kok, itu Cuma bohongan.” Nah, aku jadi ingat ketika pernah suatu ketika bang Ade Armando mengatakan bahwa tayangan X itu rekayasa. Dilihat dari alur cerita, sikap atau perilaku para tokohnya, make up, dan sebagainya. Dan bang Ade bisa menjamin perkataannya benar karena dia punya bukti yang akurat. Kalo ga salah waktu itu di talkshow yang diadakan oleh HMIK dalam rangka pekan komunikasi.
Ketika itu aku ceritakan kepada temanku yang merupakan penggemar tayangan X itu, dia cuma komentar, “Ah, masak si? Tapi kayaknya emang real deh.” Pokoknya dia nggak percaya lah. Aku juga masih ragu, soalnya tayangan itu sama sekali nggak kelihatan rekayasanya, sampai ketika temanku bilang., “ Wun, kemarin gue liat tayangan X, ternyata yang main tu temen gue, tapi dia pake nama lain.” Terus dia juga cerita kalau kisah dalam tayangan X beda banget sama kehidupan temennya itu. Setelah temenku cerita, aku benar2 yakin kalau tayangan X itu rekayasa.
Permasalahan yang dihadapi Reality show adalah reaksi dari para “pemain” dalam reality show tersebut yang tidak bisa ditebak. Untuk tayangan yang benar-benar real, terkadang ada pelaku yang tiba-tiba mengamuk, menendang kamera, bahkan membawa senjata tajam. Ini terjadi dalam acara Harap-harap cemas (H2C). Ada seorang yang mengancam kru-nya dengan senjata tajam, kalau ga salah berupa pistol. Kebetulan waktu itu aku nonton dan kasusnya juga sampai di kantor polisi dan beberapa kali menghiasi infotainment.
Nah , satu lagi yang membuat penasaran, sering kita amati seseorang muncul beberapa kali dalam reality show yang berbeda seperti orang tersebut adalah artis spesialis reality show. Waktu itu ada dia di mak comblang, kok sekarang ada di kontak jodoh misalnya. Seperti yang kita tahu, di setiap reality show pasti ada hadiah yang akan diterima oleh para pesertanya. Oleh karena itu tak jarang orang yang memanfaatkannya untuk ajang mencari uang. Kalau dia bisa lolos di setiap casting reality show, why not?
Kalau diperhatikan para pemain reality show itu menarik ya? Ceweknya cantik-cantik, cowoknya juga ganteng-ganteng.
Reality show ini juga sering dibahas di perkuliahanku, tapi bukan membahas tentang bagaimana proses produksinya. Para dosen komunikasi yang sebagian juga bergabung dalam KPI justru mempermasalahakan substansi yang ada dalam tayangan reality show. Beberapa tayangan reality show dinilai tidak sesuai dengan kebudayaan negara kita. Misalnya, ada suatu tayangan yang memperkenalkan dua orang berbeda jenis. Setelah mereka berkenalan, kemudian mengobrol, hari itu juga mereka sudah berani gendong-gendongan, bahkan berciuman. Lalu si pria juga sudah berani bertengkar bahkan berkelahi dengan pria lain untuk mempertahankan si wanita yang baru beberapa jam dikenalnya ini. Ini kan tidak pantas dan tidak sesuai dengan budaya Indonesia yang sopan dan santun.
Rabu, 03 Juni 2009
Parodi Politik,(+)/(-)???
Liburanku terhitung sejak hari Jumat, 29 Mei 2009. Masih 6 hari, tapi udah mulai mati gaya..6 hari ini akau ngapain aja ya?????
Hari Jum'at kemarin ikut talkshow di PSJ, pulangnya langsung ke asrama buat rapat kompor(Komunitas Mahasiswa Purworejo). Aneh ya namanya??Bahkan di pertemuan kemarin sempet ngebahas buat ngganti nama kompor..haha!padahal sebenernya ga ada yang perlu dipermasalahkan dengan nama itu..
Hari sabtunya jalan ke puncak, tapi ga ada yang menarik..ught!hari minggu jalan bareng temenku dari Bogor..Senin rapat Adkesma di MBRC terus ke PPM mau wawancara tentang BOP_B & banding online..ternyata disuruh dateng lagi hari rabu..Nah, akhirnya hari ini aku kembali ke PPM..Setelah itu di sini deh, MBRC lantai bawah-komputer nmr 36..haha!!
Dari semua itu, yang paling menarik ya talkshow hari Jum'at..Niatnya emang mau ngebahas itu si, yang tadi cuma intermezzo..hehe
Jum'at kemarin aku ikut talkshow yang berjudul "Dampak Parodi Politik Terhadap Aspirasi Politik Masyarakat". Pembicara dalam talkshow ini antara lain:
1.Effendi Ghazali (Praktisi Media dan Pakar Ilmu Komunikasi)
2. Hasan Nasbi (Projec Manager Quickcount Pemilu Legislatif 2009_Cyrus Surveyor Group)
3. Hamdi Muluk (Pakar Psikologi Politik)
4. Boni Hargens (Pengamat Politik)
Parodi politik yang pertama diprakarsai oleh Effendi Ghazali. Pertama kali tayangan ini muncul di Metro TV dengan tokoh antara lain Butet Kertarajasa yang memerankan SBY dan Jarwo Kuat sebagai JK. Lalu tayangan ini pindah ke Indosiar dengan peran SBY diagnti oleh Taufik Savalas (alm.) dan JK oleh Kelik dengan nama Ucup Kelik, kemudian pindah lagi ke TV One. Tokoh SBY diaminkan oleh Derry Drajat dan Jarwo kuat kembali menjadi JK. Ada juga tokoh2 lain yang juga diperankan oleh orang lain seperti Suharta (Suharto), Gus Pur (Gus Dur), Megawangi (Megawati), Habudi(Habibie), dan lain-lain. Selain itu ada Anya Dwinov dan Olga Lidya sebagai pembawa acara dan Boni Hargens yang sepertinya tetap berperan sebagai pengamat politik. Tak jarang Boni Hargens melontarkan sindiran atau kritikan pedas terhadap para tokoh politik kita.
Aku mulai sering nonton tayangan yang berjudul "Republik Mimpi ini sejak tayang di TV one. Acara inimemang selalu membahas isu2 politik yang sedang hangat terjadi. Yang paling aku ingat adalah saat membahas perpisahan SBY_JK di pilpres 2009. Kebetulan waktu itu akau bersama teman2 kelasnya Boni Hargens diajakin nonton langsung di studio. Mas Boni adalah dosenku yang mengajar mata kuliah "Sistem Politik Indonesia". Waktu itu bintang tamunya adalah Dedi Mizwar dan seorang tokoh politik dari partai Golkar (aku lupa namanya..hehe)

(ini dia fotoku bareng temen2 waktu nonton "republik Mimpi" di studio TV one.ada Boni Hargens dan Derry Drajat a.k.a presiden SDY)

(girang banget foto bareng presiden negeri impian, kapan ya foto bareng presiden negeri beneran????haha)

(bukan...bukan!!!!!ini bukan Gus Dur, tapi Gus Pur...!!mirip banget ya??!)
Untuk isu2 yang lain memang sudah banyak yang aku lupa. Hal ini sempat dubahas di awal talkshow, bahwa ternyata orang yang menonton acara parodi politik lebih banyak mengingat lawakannya daripada masalah politik yang dibahas. Selain itu ada juga yang lebih mengenal karakter tokoh politik dalam parodi daripada tokoh aslinya. Salah satu pembicara, kalau tidak salah Hamdi Muluk mengatakan bahwa ia menemukan kasus, ada seorang yang tidak mau memilih JK(yang asli) karena orangnya genit. Ia berpendapat begitu setelah melhat Jarwo Kuat sering memanggil "hunny" kepada Anya dan Olga. Hal ini dikhawatirkan akan mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap isu politik maupun tokoh politik yang diparodikan dan aspirasi masyarakat terhadap politik menjadi berkurang. Apalagi, dalam parodi ini serign menyindir para tokoh politik.
Menyikapi pendapat ini Effendi Ghazali pun memaparkan bahwa tujuan dari adanya parodi politik adalah untuk membuat masyarakat tertarik pada politik. Acara ini sebagai alternatif masyarakat yang bosan atau tidak suka menonton tayangan berita maupun membaca koran. Dengan menonton tayangan ini masyarakat dapat mengentahui berita politik melalui kemasan yang lebih menarik. Mengenai apakah aspirasi masyarakat berkurang atau pun masyarakat akan lebih terkenang pada lawakannya daripada isu politiknya tidak dapat disimpulkan terlebih dahulu, perlu penelitian yang lebih lanjut. Sayangnya, belum ada dana untuk melakukan riset itu.
Pembuatan parodi politik juga tidak mudah, tidak hanya sekedar melawak atau menciptakan lelucon saja. Untuk masuk ke stasiun televisi juga melalui perjuangan yang cukup berat. Tidak semua stasiun TV mau menerima tayangan ini. Pertama kali atayng acara ini juga belum seperti sekarang yang sudah berani meniru tidak hanya wajah, tetapi juga gaya para tokoh politik serta melontarkan sindiran2 pedas terhadap tokoh politik maupun kebijakan politik yang dianggap merugikan rakyat. Sering berpindahnya stasiun TV yang menayangkan acara ini juga menjadu kendala yang cukup berarti. Terkadang acara ini tersingkirkan oleh acara lain yang dianggap lebih menarik dan disukai masyarakat seperti tayangan sinetron. Semakin beraninya tayanagn ini mengkritik pemerintahan juga membuat stasiun TV berfikir dua kali untuk melanjutkan acara ini, apalagi sekarang sedang panas2nya persaingan antara tiga pasang Capres-cawapres 2009. Dialog-dialog politik mengenai capres-cawapres kita ini tentu lebih diutamakan agar masyarakat lebih mengenal sosok calon pemimpinnya.
Namun demikian, perjuangan Effendi Ghazali untuk membuat masyarakat "melek" politik tidak berhenti sampai di sini. Bersama rekan-rekannya ia membuat sebuah film bertajuk "CaPres (Calo Presiden) yang mulai tayang di bioskop tanggal 4 Juni 2009).
Sebenarnya keberadaan Parodi politik tidak selamanya buruk, meskipun terkadang kritikan2nya dapat memicu sikap apatis masyarakat terhadap politik. Tayangan ini dapat dijadikan referensi lain dalam memandang politik. Namun, tentunya masyarakat juga tidak hanya mendengar atau melihat dunia politik melalui tayangan parodi. Masyarakat harus mengetahui dari sumber lain, jangan hanya berpatokan pada pendapat dalam parodi politik karena bisa jadi ini sangat subjektif.
Meskipun banyak para penonton yang lebih menikmati lawakannya dan cenderung melupakan muatan politik dalam parody, paling tidak masyarakat tahu apa masalah yang sedang terjadi pada saat itu.
Senin, 25 Mei 2009
Paris, Je Ta'ime
Awal-awal liat, gue masih bingung. soalnya kok ceritanya loncat-loncat, tokohnya kok diganti-ganti, mau di backward udah ga bisa, soalnya nontonnya di metro tv. Tapi di tengah-tengah cerita akhirnya gue ngerti juga.

Paris je ta'ime bercerita tentang berbagai kisah cinta di kota Paris dengan latar dan tokoh yang berbeda-beda. Film ini cukup unik karena ada bebagai macam kisah dengan satu tema, yaitu cinta. Di awal cerita film ini mengisahkan tentang seorang laki-laki yang menggeruru karena terjebak macet,terlebih ketika ia melihat di kanan dan kirinya ada berbagai pasangan yang sedang bersama. Namun, gerutuaanya bukan tentang kemacetan. Ia berkata bahwa dirinya cukup tampan, baik, dan mempunyai banyak kelebihan .Tetapi hingga saat itu ia belum mendapatkan pasangan. Kemudian tiba-tiba ada seorang wanita yang jatuh di jalan dan membutuhkan pertolongan. Ia pun segera menolong wanita tersebut dan membawanya ke dalam mobilnya. Dari situ si pria dan wanita yang ditolongnya terlibat sebuah obrolan yang (menurut tebakan gue) akan melahirkan sebuah kisah cinta diantara mereka.
Kemudian ada juga cerita tentang kisah cinta hantu. Cerita ini yang menurut gue paling kocak. Gue baru mudheng filmnya pas ada cerita ini. Jadi ceritanya seorang wanita vampir sedang menghisap darah seorang laki-laki tua, lalu ada seorang pria muda yang memergokinya. Si wanita akan menghisap darah pria muda itu, tetapi tidak jadi. Si pria muda sudah terlanjur ketakutan dan malah terpeleset hingga akhirnya jatuh dari tangga hingga kepalanya terluka sangat parah. Lalu si wanita vampir itu segera menghisap darah si pria muda agar ia dapat menjadi vampir seperrtinya. Setelah si pria muda itu bertransformasi menjadi vampir, mereka pun berciuman "french kiss" ala vampir, yaitu dengan saling menggigit leher masing2. Setelah itu gue langsung ber "haha!" dan "ooooooooooalaaaaaaaaah!!", baru mudheng ceritanya. Kisah cinta yang disuguhkan di film ini bermacam-macam, mulai dari kisah cinta antara pria dan wanita, Ayah dengan anaknya, ibu dengan bayinya, pasangan yang akan menikah, kisah cinta gelandangan, kisah cinta antar agama, hingga kisah cinta hantu seperti yang talah saya ceritakan.
Latar tempat dan nama tokoh-tokohnya sendiri gue lupa, maklum cuma nonton di TV, jadi ga bisa di ulang lagi..hehe!!Yang jelas film ini cukup menarik dan setelah gue search di google ternyata film memuat 18 cerita yang dibuat oleh 18 sutradara yang berbeda dengan tokoh yang berbeda pula. Film ini juga pernah meraih penghargaan, yaitu un certain regard dalam festival film Cannes tahun 2006 (http://www.parlezfrancais.net)

